Keikutsertaan dalam Asosiasi

Prodi arsitektur Unwira dalam proses pembelajaranya tidak terlepas dari kegiatan asosiasi-asosiasi yang memilki korelasi langsung dengan pendidikan aristektur seperti ; Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indondesia (APTARI), Ikatan Arsitek Indonesia  (IAI) juga Ikatan Arsitek Asia (ARCASIA). Prodi Arsitektur secara aktif ikut dalam setiap kegiatan asosiasi –asosiasi ini. Pada setiap penyusunan kurikulum dan reviewnya selalu mengacau pada 13 kompetensi Ikatan Arsitek Indonesia yang teridiri dari :

1. Perancangan Arsitektur

Kemampuan menghasilkan rancangan arsitektur yang memenuhi ukuran estetika dan persyaratan teknis, dan yang bertujuan melestarikan lingkungan (Ability to create architectural designs that satisfy both aesthetic and technical requirements, and which aim to be environmentally sustainable)

2. Pengetahuan Arsitektur

Pengetahuan yang memadai tentang sejarah dan teori arsitektur termasuk seni, teknologi dan ilmu-ilmu pengetahuan manusia (Adequate knowledge of the history and theories of architecture and related arts, technologies, and human sciences)

3. Pengetahuan Seni

Pengetahuan tentang seni rupa dan pengaruhnya terhadap kualitas rancangan arsitektur (Knowledge of the fine arts as an influence on the quality of architectural design)

4. Perencanaan dan Perancangan Kota

Pengetahuan yang memadai tentang perancanaan dan perancangan kota serta ketrampilan yang dibutuhkan dalam proses perancanaan itu (Adequate knowledge on urban design, planning, and the skills involved in the planning process)

5. Hubungan antara Manusia, Bangunan dan Lingkungan

Memahami hubungan antara manusia dan bangunan gedung serta antara bangunan gedung dan lingkungannya, juga memahami pentingnya mengaitkan ruang-ruang yang terbentuk di antara manusia, bangunan gedung dan lingkungannya tersebut untuk kebutuhan manusia dan skala manusia (Understanding of the relationship between people and buildings and between buildings and their environments, and of the need to relate spaces between them to human needs and scale.)

6. Pengetahuan Daya Dukung Lingkungan

Menguasai pengetahuan yang memadai tentang cara menghasilkan perancangan yang sesuai daya dukung lingkungan (An adequate knowledge of the means of achieving environmentally sustainable design.)

7. Peran Arsitek di Masyarakat

Memahami aspek keprofesian dalam bidang Arsitektur dan menyadari peran arsitek di masyarakat, khususnya dalam penyusunan kerangka acuan kerja yang memperhitungkan faktor-faktor sosial (Understanding of the profession of architecture and the role of architects in society, in particular in preparing briefs that account for social factors)

8. Persiapan Pekerjaan Perancangan

Memahami metode penelusuran dan penyiapan program rancangan bagi sebuah proyek perancangan (Understanding of the methods of investigation and preparation of the brief for a design project.)

9. Pengertian Masalah Antar-Disiplin

Memahami permasalahan struktur, konstruksi dan rekayasa yang berkaitan dengan perancangan bangunan gedung (Understanding of the structural design, construction, and engineering problems associated with building design.)

10. Pengetahuan Fisik dan Fisika Bangunan

Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai permasalahan fisik dan fisika, teknologi dan fungsi bangunan gedung sehingga dapat melengkapinya dengan kondisi internal yang memberi kenyamanan serta perlindungan terhadap iklim setempat (Adequate knowledge of physical problems and technologies and of the function of buildings so as to provide them with internal conditions of comfort and protection against climate.)

11. Penerapan Batasan Anggaran dan Peraturan Bangunan

Menguasai keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan pihak pengguna bangunan gedung dalam rentang-kendala biaya pembangunan dan peraturan bangunan (Necessary design skills to meet building users requirements within the constraints imposed by cost factors and buildign regulations.)

12. Pengetahuan Industri Kontruksi dalam Perencanaan

Menguasai pengetahuan yang memadai tentang industri, organisasi, peraturan dan tata-cara yang berkaitan dengan proses penerjemahan konsep perancangan menjadi bangunan gedung serta proses mempadukan penataan denah-denahnya menjadi sebuah perencanaan yang menyeluruh (Adequate knowledge of the industries, organizations, regulations, and procedures involved in translating design concepts into buildings and integrating plans into overall planning.)

13. Pengetahuan Manajemen Proyek

Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai pendanaan proyek, manajemen proyek dan pengendalian biaya pembangunan (Adequate knowledge of project financing, project management and cost control.)

Terlibat secara aktif pada penyelenggaraan Rakernas IAI 2016  di Kupang NTT
Terlibat secara aktif pada penyelenggaraan Rakernas IAI 2016 di Kupang NTT

Talk Show

Selain seminar ada format kegiatan lain yang sengaja di buat oleh Prodi Arsitektur Unwira dalam rangka pengembangan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan informasi tentang dunia arsitektur dan lingkungan binaan. Salah satu wujud kegiatan itu adalah Tamnis Weekend Show yang terdiri dari beberapa kegiatan antara lain; Pameran dan Klinik Arsitektur yang di kelolah oleh HIMA dan BPR XVI dengan melibatkan para praktisi konsultan, arsitek anggota IAI dan alumni, kegiatan launching buku karya dosen arisitektur Reginaldo Ch. Lake, ST.MT, kegiatan Talk Show dengan tema Menuju Kota Yang Dinamis dan Smart dengan narasumber ; Prof. Antariksa Sudikon,. Phd, Dr. Yohanes Basuki Dwisusanto, MSc, dr Herman Man (Wakil Walikota Kupang), Ir J. Touselak (mewakili Kadis Pu Provinsi NTT) , Don Ara Kian, ST.MT,IAI (Ketua Prodi Arsitektur Unwira/Ketua IAI NTT) dan kegitan lomba sketsa tingkat sekolah dasar se kota Kupang.

Kegiatan Talk Show dengan tema Menuju Kota Yang Dinamis dan Smart
Kegiatan Talk Show dengan tema Menuju Kota Yang Dinamis dan Smart

Seminar Arsitektur

Seminar Arsitektur merupakan salah satu media bagi para dosen arsitektur mempublikasi hasil penelitian serta bias berbagi ilmu pengetahuan dengan berbagai kalangan secara lebih luas. Salah satu kegiatan yang di maksud adalah seminar nasional dengan tema Menelusuri dan Memahami Arsitektur Vernakular Nusantara dengan key note speaker Dr. Djarot Purbadi dari Universitas Katoli Adma Jaya Jogjakarta dan pembahas Ir. Pilipus Jeraman , MT sebagai dosen prodi Arsitektur Unwira yang secara konsisten melakukan kajian-kajian terkait arsitektur vernacular NTT.

Seminar Nasional Menelusuri dan Memahami Arsitektur Vernakular Nusantara 23 September 2015
Seminar Nasional Menelusuri dan Memahami Arsitektur Vernakular Nusantara 23 September 2015

Studi Arsitektur Vernakular NTT

Nusa Tenggara Timur memiliki kekayaan arsitektur vernakular (=arsitektur kerakyatan= volk  architecture) yang sangat khas dan dapat dijadikan sebagai ’arsitektur sumber’ serta dapat dimanfaatkan dalam rangka mengembangkan arsitektur masa kini yang berjati diri Nusa Tenggara Timur.

Dalam semangat (spirit) mengembangkan budaya lokal (salah satu program Prodi Arsitektur Unwira), maka potensi dan peluang pengembangan arsitektur lokal sangat dimungkinkan, karena di Nusa Tenggara Timur terdapat setidaknya sepuluh ragam arsitektur vernakular yang menyebar di Pulau Timor (arsitektur Belu dan Atoni), Pulau Rote (arsitektur Rote), Pulau Sabu (arsitektur Sabu), Pulau Sumba (arsitektur Sumba), Pulau Flores dan Lembata (arsitektur Manggarai, Ngada, Ende-Lio, dan Lamaholot) serta Pulau Alor (arsitektur Alor).

Studi Arsitektur Vernakular Nasean di Kecamatan Insana Kabupaten TTU
Studi Arsitektur Vernakular Nasean di Kecamatan Insana Kabupaten TTU

Keanekaragaman arsitektur vernakular ini merupakan suatu berkah dan karunia yang tiada taranya bila dibandingkan dengan arsitektur vernakular yang terdapat di provinsi lainnya di Indonesia. Kenyataan ini sekaligus menunjukan bahwa arsitektur vernakular dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi dalam berasitektur sekaligus sebagai pedoman dalam perancangan arsitektur masa kini di Nusa Tenggara Timur dengan sangat kaya dan beragam. Andai kata kesepuluh ragam arsitektur vernakular ini dapat dimanfaatkan dalam perancangan arsitektur masa kini, maka arsitek di Nusa Tenggara Timur memiliki sepuluh pilihan atau alternatif yang bersumber pada arsitektur vernakular tersebut. Artinya para arsitek di Nusa Tenggara Timur  memiliki potensi untuk menghasilkan minimal sepuluh alternatif  rancangan arsitektur yang beridentitas lokalitas Nusa Tenggara Timur.

Keakraban dengan potensi dan sumber daya yang di miliki daerah Nusa Tenggara Timur ini semestinya mendorong dikembangkannya teknologi berbasis sumber daya (resources based technology). Penguasaan ilmu, teknologi baru, teknologi masa depan tetap harus menjadi perhatian dengan tetap mengaitkanya dengan sumberdaya yang dimiliki. Dengan cara ini para arsitek NTT  bukan saja mampu memberikan kontribusi keilmuan, tetapi solusi alternative persoalan dan pembangunan, serta sebagai sumber inspirasi bangsa pada umumnya dan NTT pada khususnya. Sehingga dengan demikian para mahasiswa sebagai calon arsitek lokal diharapkan tumbuh subur dengan  memiliki otoritas keilmuan yang handal. Generasi yang memiliki pola pikir yang obyektif dan terbuka (open mainded). Obyektif dalam makna sesuai dengan nalar rasional dan terbuka dalam makna yang dapat diuji oleh siapapun dan terbuka untuk menerima pikiran-pikiran baru yang lebih tepat. Dan inilah yang menjadi salah satu tujuan penyelenggaraan kegiatan Studi Tour Arsitektur Vernakular NTT yang suda di rintis sejak lama.

Studi Arsitektur Kota

Perkembangan pembangunan perkotaan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat dan mengalami magnitude –nya pada decade 1980-an, di mana pada periode tersebut pertumbuhan penduduk perkotaan  mencapai angka 5,2 % per tahun, penduduk perkotaaan Indonesia baru sebesat kurang dari 20 % dari jumlah penduduk keseluruhan, kemudian meningkat menjadi 30 % pada tahun 1990. Selama dasa warsa 1990-an pertumbuhan kota terus meningkat meskipun ada sedikit fluktuatif selama ‘krisis moneter’ yang dimulai pada tahun 1997. Pada tahun 2000 jumlah penduduk perkotaan sudah mencapai proporsi 42 % dari jumlah penduduk nasional, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 50 % pada 2010. Hasil analisis Bank Dunia memprediksikan pada tahun 2025 akan terjadi pembalikan perimbangan ketika perkotaan akan mendominasi populasi negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Studi Tour Arsitektur Kota di Jakarta, Bandung dan Surabaya tahun 2009

Agar para mahasiswa arsitektur dapat megikuti perkembangan aristektur perkotaan dengan baik juga mengenali ruang kota yang berbeda dengan kota Kupang maka Prodi Arsitektur telah menjadikan kegitan Studi Tour Arisitekutur Kota menjadi program regular yang melekat pada mata kuliah Arsitektur kota. Tujuanya adalah agar mehasiswa arsitektur mengalami ruang serta menimbah ilmu lain dengan mengamati obyek-obyek yang dipandang memiliki korelasinya dengan  ilmu arsitektur seperti ; tekonologi material bangunan, building science, tata ruang kota juga budaya masyarakat perkotaan. Sasaran kegiatan studi tour ini adalah kota-kota besar di Indonesia maupun di luar negeri yang memiliki potensi paling besar dalam menimba ilmu arsitektur dan lingkungan binaan. Kegiatan yang dibina langsung oleh dosen pengampuhnya yakni Ir Robertus M. Raya Wulan,MT  dan Don Ara Kian, ST.MT ini suda berlangsung sejak tahun 2000. Dan terus berjalan dan selalu didampingi dosen pada prodi Arsitektur yang pengaturanya di atur sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.

Kontribusi Prodi Arsitektur Unwira Untuk Pembangunan NTT

Kutipan Walt Whitman dalam Design of Cities, Edmund N. Bacon, merupakan pemberian tugas besar pada seorang Arsitek. Namun tugas besar ini mustahil terwujud jikalau sang arsitek sendiri tidak mengembangkan kesadaran ruangnya melalui keterlibatan atas keberadaanya secara utuh. Kesadaran akan ruang berada jauh dari kegiatan pemikiran. Kesadaran itu berkaitan dengan kesan-kesan, serta perasaan yang sangat luas liputanya, yang membutuhkan keterlibatan masing-masing secara menyeluruh agar sejauh mungkin dapat menghasilkan sebuah respon secara penuh pula.

Bersama Gubernur NTT bapak Frans Lebu Raya
Bersama Gubernur NTT bapak Frans Lebu Raya

Diskusi tentang arsitektur, tidak dapat pisahkan dari semesta pembicaraan mengenai bentuk, ruang dan waktu. Bentuk dalam arsitektur merupakan perwujudan dari massa dan ruang. Jika hubungan filosofi antara ke dua elemen tersebut tidak jelas maka bentuk arsitektur juga menjadi tidak jelas. Demikian pula dengan ruang dan waktu, salah satu tujuan utama arsitektur adalah meningkatkan drama kehidupan. Oleh karena itu arsitektur harus memberi ruang-ruang yang beraneka ragam untuk kegiatan-kegiatan yang berbeda pula dan harus memperkaya ruang-ruang dari kegiatan kehidupan tertentu yang berlangsung di dalamnya dapat diperkuat.

Kesadaran akan makna substansi dalam berarsitektur inilah yang telah membangkitkan gairah Jurusan Arsitektur UNWIRA Kupang untuk ikut memberikan warna dalam mosaik arsitektur nusantara. Kesadaran ini lahir dari para arsitek senior yang menyelesaikan tugas belajar di dalam negeri maupun di luar negeri yang kemudian mengabdikan ilmu pengetahuannya pada masyarakat NTT melalui lembaga perguruan tinggi. Perguran tinggi pertama yang meletakan dasar-dasar berkembangnya ilmu pengetahuan arsitektur di Nusa Tenggara Timur adalah Universitas Katolik Widya Mandira Kupang sejak tahun 1982.

Kehadiran lembaga arsitektur dan para arsitek senior seperti Ir. Ign. Herliyatno, MT, Joseph Oenarto, dipl. eng, Ir. Adi Darmawan, Ir. Abraham Paul Liyanto, saat itu dan kini di lanjutkan oleh generasi baru Arsitek Poduksi Jurusan Arsitektur UNWIRA seperti Ir. Dady Malelak, Ir. Robertus M. Raya Wulan, MT, Ir. Benyamin Sam Pandie, Ir. Pilipus Jeraman,MT,  Ir. Richardus Daton, MT,  Ir. Vitalis Nenobais (dan masih banyak lagi) tidak dapat dipisahkan dari semangat, spirit dan moralitas pengabdian kepada masyarakat NTT. Spirit dan moralitas ini adalah kerja keras, optimisme dan kesediaan diri secara ikhlas untuk memberikan lebih dari kewajibannya dan menerima kurang dari hak-haknya. Di sertai dengan keyakinan bahwa pemberian yang lebih dan penerimaan yang kurang tersebut dijadikan investasi kemasyarakatan yang pada saatnya akan memperoleh mafaat yang lebih.

Kebutuhan insinyur pembangunan dan  revolusi informasi serta komunikasi melatarbelakangi keberadaan lembaga arsitektur di Nusa Tenggara Timur. Kondisi ini sungguh sangat di sadari oleh Jurusan Arsitektur UNWIRA sehingga dengan kerja keras dan didorong oleh semangat untuk membangun NTT, maka buah dari kerja keras itu  adalah sepuluh tahun kemudian tepatnya tahun 1990 lahirlah Insinyur  Arsitek untuk pertama kalinya, insinyur di jaman kemerdekaan produksi asli Nusa Tenggara Timur. Hal ini tentu menjadi kebanggaan bagi semua warga masyarakat NTT. Alumni NTT yang hadir di daerah NTT dan benar-benar berada di tengah masyarakat NTT dalam berbagai profesi.  Kiprah Alumni ini menjadi kebanggaan dan mengharumkan nama NTT. Namun di sadari pula bahwa, masuknya rekan-rekan arsitek dari luar NTT dalam pembangunan di NTT telah menambah khasana berarsitektur di daerah ini.